.Dan itulah yang mama rasakan since mama dan papa sepakat mutusin untuk tinggal bersama di rumah ortu-nya papa mulai awal mama hamil. Sebetulnya sih, alhamdulillah mama dan papa sudah memiliki rumah sendiri, belinya juga dari hasil nabung sendiri, bersertifikat dan sudah balik nama pulak. Tapii dengan berbagai pertimbangan, rumah itu tidak langsung kita tempati melainkan kami sewakan ke orang lain. Jadi kalau dihitung-hitung udah hampir 3 taun ini kami tinggalnya nebeng di rumah ortunya papa
. Jujur sih ya, selama tinggal di rumah mertua ini banyakan plusnya dari pada minusnya
. Kalau mama ulas "plus-nya" satu persatu bisa full memori deh blog ini, hehehe
. Aniway, yang paling perlu dihighlight adalah Danis ada yang jagain dan ngawasin, itupun gak cuma 1 orang karena di rumah ada Budhe (Kakak papa yg pertama), Mbah Uti dan Pakdhe (kakak papa yg ke-3). Mereka ini kompak banget 'ngerawat' Danis pas mama & papa lagi ngantor. So kalau misalnya salah satu lagi ada keperluan mendadak dan harus keluar rumah, bisa digantiin sama yang lain. No worries karena yang ngasuh adalah keluarga sendiri, pembantu hanya untuk nyuci-seterika dan beberes rumah. Makanan Danis jadi lebih terkontrol dgn baik, pergaulannya juga lebih baik dan plus plus yang laen
. Minusnya?
Sungguh dengan berat hati mama ngerasa perlu ya untuk catet disini meskipun nggak fair rasanya untuk ngebahas minusnya yang bisa dibilang hanya seujung kuku bila dibandingkan plus-plusnya. Hanya ada 1 hal yang nurut mama sih sedikit nganjel dan 'berhasil' bikin mama bete yaitu : dengan banyaknya anggota keluarga di rumah, maka semakin sering anak mama ini jadi bahan guyonan alias 'suka digodain' hingga (kalau bisa) nangis-nangis
. Contohnya mas Jodi. Mas jodi ini anaknya budhe Pat. Kantor tempatnya bekerja emang deket dengan rumah perak, jadi mas Jodi ini sering mampir ke rumah entah itu pas jam makan siang atau sore sepulang dari kantor. Mas Jodi ini sering banget godain Danis, seperti misalnya dengan pura-pura ngajak budhe Pat pergi. "Ayo budhe, pergi yok" sambil ngerangkul mamanya seperti orang yang bener-2 mau pergi. Dan tentu saja, Danis jejeritan ngelihat hal itu sambil bilang : "Mas Jodi jangan! mas Jodi jangan!" sampe sakhirnya berlinangan air mata. Mmm yang ini mama sempat batin ya, apa mungkin karena sering digodain ini sehingga Danis kalau pas bobok minta ditemeni both mama dan budhe-nya, just karena takut ditinggal
. Tidak cuman itu aja. Beberapa hari yang lalu Danis kalau misal mau ngelarang mama/papa/budhe/pakdhe & uti untuk ngelakuin sesuatu bilangnya begini :
"Jangan sop! ... Jangan sop!" Padahal sebelumnya dia sudah bisa berbicara dgn baik seperti "Mama jangan, papa jangan!". Gara-garanya sih karena sering digodain sama Pakdhenya yang suka ngomentarin 'larangan' Danis tsb dengan "Jangan apa? Jangan sop atau Asem?" Dan Danis ngejawab : "sop aja". So semenjak digodain begitu, Danis jadi seringnya bilang jangan-nya dibarengi dengan Sop. Hahaha, ada-ada aja sih... Gara-gara pakdhe-nya nih...
Well, semakin hari mama bertekad untuk belajar menjadi orang yang lebih ikhlas dan mensyukuri apa yang ada. Alhamdulillah akhirnya Danis nggak lama-lama kok ngeduain mama seperti yang pernah mama ceritain disini. Sudah 2 malam berturut-turut mama berhasil membujuk Danis untuk tidur bersama mama tanpa 'budhe'nya lagi dgn smoothly, no strike. Asalkan bersabar dan iklas... semua pasti ada jalannya, insya Allah....
(Note: 'Jangan' kalau dalam bahasa jawa dpt diartikan 'Sayur' jadi kalau jangan sop = Sayur sop, Jangan Asem = Sayur Asem, dsb)






